Pro dan Kontra Seputar Diet Paleo

Kamu mungkin sudah pernah mendengar tentang diet Paleo; atau bahkan mungkin kamu sudah pernah mencobanya. Lagipula memang tren makan makanan ala nenek moyang primitif manusia sedang naik daun dimana-mana, kan?

Paleo, tentu saja, menganjurkan kita untuk mengkonsumsi makanan seperti yang dilakukan nenek moyang kita. Hanya saja, ada beberapa jenis makanan yang “dilarang” oleh penyusunnya. Konsepnya begini: 

Pola makan manusia berevolusi dari kebiasaan konsumsi makanan masa kini (yang cenderung instan, singkat, dan “enak”).

Karenanya, para penganut Paleo berargumen bahwa untuk menjadi lebih sehat, lebih ramping, dan lebih kuat, kita harus berpikir ulang tentang apa yang kita makan dan menghilangkan kelompok makanan yang dianggap mendasar. Dan dengan menjanjikan banyak hal dari penurunan lemak tubuh ke lebih banyak energi dan kulit yang lebih cerah, Paleo tentunya menjadi sangat menarik bagi banyak orang. Tetapi, apa sih diet Paleo itu sebenarnya? Apakah ia adalah pola makan yang amat sangat layak dicoba?

Kenapa “Paleo”: Konsep dasar pola makan primitif

Untuk memahami cara berpikir Paleo, kita harus mengerti sejarah masa lampau. Mari kita lihat apa yang dahulu kala biasa dikonsumsi oleh leluhur kita:

  • 60 juta tahun yang lalu: sepupu terjauh manusia, primata awal, makan dalam jumlah yang sangat banyak, seperti layaknya primata. Mereka mengkonsumsi buah-buahan, daun-daunan, dan serangga dalam jumlah besar.
  • 2.6 juta tahun yang lalu: Masa Evolusi! Manusia mulai menggunakan peralatan dan api, dan berpindah ke pola makan “hunter-and-gatherer”.
  • 10.000 tahun yang lalu: Pada titik ini, “agrikultur” mulai mengambil alih dunia dalam sekejap. 

Manusia Palaeolithikum tentunya memiliki kebiasaan konsumsi makanan yang baik dan benar. Pada umumnya, mereka mengkonsumsi:

  • Lebih banyak serat,
  • Lebih banyak protein,
  • Lebih banyak asam lemak Omega-3,
  • Lebih banyak lemak tak jenuh,
  • Lebih banyak vitamin dan mineral,
  • Lebih sedikit lemak jenuh dan sodium.

Dengan demikian, fans Paleo cenderung mengabaikan kenyataan bahwa “hunter-gatherers” bukanlah contoh dari kesehatan murni. Padahal, manusia Paleolithikum menderita karena parasit, infeksi penyakit, dan bahkan atherosclerosis alias pengerasan pembuluh arteri.

Bahaya dari Pola Makan Modern Masa Kini

Percepat ke masa kini. Pola makan kita berubah sangat signifikan, dan bukan malah menuju ke yang lebih baik, tetapi sebaliknya. Yang perlu diketahui, pola makan kita saat ini mengandung banyak makanan olahan, kemasan dan produksi komersil daripada yang pernah terjadi di masa-masa sebelumnya.

Inti permasalahan: Enam sumber Kalori yang banyak dikonsumsi manusia modern:

  • Makanan sampingan berbahan dasar gandum (cake, cookies, dll),
  • Roti yang menggunakan ragi,
  • Makanan inti yang menggunakan bahan dasar ayam,
  • Minuman ringan yang menggunakan pemanis,
  • Pizza dan pasta,
  • Minuman beralkohol.

Yuck!  😥 Makanan diatas selain bukan makanan leluhur, malah bisa disebut “bukan makanan”. Sementara itu, obesitas, diabetes, dan penyakit jantung dalam 50 tahun terakhir jumlahnya meningkat amat sangat pesat. Nampaknya malah menjadi penyakit pembunuh terbesar selain kanker. 

Nah, klaim diet Paleo yang mengatakan bahwa pola makan manusia masa kini sangat tidak sehat terdengar benar. Lalu, apa yang bisa kita (manusia modern masa kini) lakukan untuk memperbaikinya?

Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Dimakan menurut Paleo

Fans berat Paleo menyarankan kita untuk kembali ke daging dan pola makan “makanan segar” seperti leluhur kita jaman dahulu. Spesifiknya, model diet Paleo menyarankan kita untuk mengikuti pola seperti ini:

  • Hewan (termasuk organ-organ dalam, tulang, kulit dari si hewan),
  • Produk hewan seperti telur dan madu,
  • Buah dan sayuran,
  • Biji-bijian dan kacang (nuts) mentah, dan
  • Lemak tambahan seperti Alpukat, butter, dan ghee.

Perhatikan apa yang hilang dari daftar diatas? Paleo menyuruh kita untuk menjauhi gandum, minyak olahan seperti minyak canola dan kedelai, dan makanan olahan pada umumnya. Legume dan produk susu juga terlarang dari diet Paleo, walaupun beberapa ‘aliran’ juga ada yang menganjurkan seiring dengan berkembangnya diet Paleo itu sendiri.

Apakah Kita Harus Berhenti Mengkonsumsi Gandum dan Legume?

Kita tentunya sudah mengetahui dari daftar di atas bahwa makanan dan cemilan olahan tidak baik untuk kita⏤tetapi bagaimana dengan gandum dan kacang-kacangan (legume)? Mari kita bahas kacang-kacangan terlebih dulu. Penganut Paleo bilang bahwa kita tidak seharusnya memakan kacang-kacangan karena ia kaya akan anti-nutrisi seperti lectins dan phytates. Dan kandungan bahan itu menurunkan nutrisi kacang-kacangan menjadi nol besar. 

Untungnya bagi para pecinta kacang-kacangan, hal ini tidak benar.

Penelitian membuktikan bahwa manfaat kacang-kacangan jauh lebih penting daripada kandungan anti-nutrisinya. Dan dengan memasaknya, menghilangkan hampir seluruh efek anti-nutrisi, dan beberapa kandungan anti-nutrisi seperti lectin sebenarnya baik bagi manusia.

Dan yang kedua yaitu gandum-ganduman, pendukung diet Paleo berargumen bahwa gandum dapat menyebabkan inflamasi dan gangguan kesehatan yang berhubungan. Hal ini bisa jadi benar tetapi hanya untuk penderita penyakit celiac dan orang yang sensitif terhadap gluten. Tetapi hasil penelitian besar yang terpercaya menyarankan bahwa mengkonsumsi biji gandum murni dapat meningkatkan kesehatan kita. Dan pada akhirnya, gandum murni ternyata tidak menimbulkan efek apapun (netral) yang berhubungan dengan inflamasi.

Yang perlu digaris-bawahi dari gandum dan kacang murni: Menghilangkan sama sekali dua jenis bahan makanan ini dari pola makan kita adalah ide yang buruk.

Masalah dengan Paleo

Gaya hidup Paleo memiliki banyak sekali keuntungan: Ia menekankan pada pola makan menggunakan bahan makanan murni (bukan olahan), protein tanpa lemak, buah, sayuran, dan lemak baik. Memasukkan bahan-bahan makanan ini kedalam pola makan kamu tentunya adalah hal yang baik.

Tetapi, pola makan Paleo memiliki beberapa kelemahan. Argumen terkait evolusinya tidak sesuai, dan bukti-bukti yang mengeluarkan produk susu, kacang dan gandum sama sekali tidak kuat. Dan yang terlebih aneh dan tidak tepat untuk saya yaitu: pendekatan pola makan terbaik satu-untuk-semua tidak masuk akal.

Hanya mengikuti daftar makanan yang “baik vs tidak baik” dan “boleh vs tidak boleh” itu akan menyebabkan masalah bagi banyak orang. Karena tidak setiap orang cocok dengan pola makan dan daftar yang dibuat. Terlebih lagi, dalam jangka panjang, akan sulit untuk konsisten pada diet ketat seperti Paleo. Tentu, beberapa orang bisa mengikutinya untuk beberapa minggu ataupun bulan, atau bahkan tahunan. Tetapi lebih dari 10 tahun? Rasanya mustahil.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?

Daripada ikut-ikutan pada diet ketat seperti itu, pikirkan hal kecil yang bisa kamu lakukan di kehidupan “modern” kamu ini yang bisa mendukung kebutuhan tubuh “kuno”. Misalnya, kalau ingin sedikit memasukkan komponen hidup sehat sehari-hari ala leluhur, kamu bisa mencoba:

  • Menambah sedikit demi sedikit makanan segar seperti buah dan sayuran ke dalam makan siang atau malam,
  • Mempertimbangkan untuk mengganti beberapa makanan olahan yang biasa kamu makan, misalnya mungkin mie instan (sedikit saja, tak perlu semuanya)
  • Pergi keluar dan lebih banyak menggerakkan badan dan menghirup udara segar,
  • Tidur lebih cepat supaya tubuh punya istirahat yang berkualitas.

Kegiatan-kegiatan kecil seperti ini jika dilakukan secara konsisten bisa berefek baik bagi kesehatan dan kebahagiaan anda. Dan konsistensi lebih penting daripada segala daftar makanan yang baik dan buruk dan juga teori-teori evolusi yang ngawur.

Tetap sehat dengan makan makanan yang sehat, ya!  😎 

Beri Komentar

%d bloggers like this: