Bumi Semakin Panas Karena Polusi, Kita Kemana Saja?

Belakangan ini, saya sering sekali membaca berita-berita seputar climate change alias perubahan iklim. Dari mulai cerita-cerita abstrak, sampai ke data-data aktual yang dikeluarkan badan riset seperti NASA. Semakin membaca, saya jadi semakin sedih dan nggak tahu harus berbuat apa. Kalian tahu nggak sih apa itu perubahan iklim?

Perubahan iklim itu berarti Indonesia jadi negeri sub-tropis kayak Jerman atau Jepang, ya? Enak dong, dingin!

Menurut Takepart, perubahan iklim atau yang biasa disebut pemanasan global adalah meningkatnya suhu permukaan Bumi keseluruhan. Mufakat ilmiah luar biasa menyatakan terjadinya perubahan iklim adalah akibat dari penggunaan bahan bakar fosil oleh manusia, yang melepaskan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah sangat besar ke atmosfer. Hal ini mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca⏤yaitu terperangkapnya panas Matahari oleh berbagai macam gas yang ada di atmosfir, yang membawa banyak efek pada berbagai ekosistem yang ada di Bumi, seperti meningkatnya permukaan laut, berbagai macam badai dan cuaca yang tak menentu, dan kekeringan dimana-mana yang mengakibatkan lansekap Bumi menjadi lebih rentan terhadap kebakaran hutan.

Grafik Peningkatan CO2 di Bumi sejak tahun 0 hingga 1950
Grafik ini disusun berdasarkan perbandingan sampel atmosfer yang ada di inti es dan pengukuran langsung yang dilakukan akhir-akhir ini, menunjukkan bukti bahwa kandungan CO2 di atmosfer meningkat sejak adanya Revolusi Industri. (Kredit: Vostok ice core data/J.R. Petit et al.; NOAA Mauna Loa CO2 record).

Mengapa Perubahan Iklim Bisa Terjadi?

Dalam seminggu, berapa kali kamu menggunakan kendaraan bermotor untuk bepergian? Di rumah atau tempat kerjamu, berapa lama pendingin ruangan menyala? Berapa banyak peralatan yang menggunakan listrik? Lalu, di sekitar tempat tinggalmu ada berapa pabrik yang melepaskan asap buangan begitu saja ke udara tanpa membersihkannya? Bahan pangan yang kamu makan setiap hari, kamu tahu asalnya darimana?

Mesin kendaraanmu mengeluarkan panas dan juga gas-gas beracun seperti karbon dioksida dan karbon monoksida. Pembangkit tenaga listrik yang ada di Indonesia, sebagian besar menggunakan bahan bakar fosil seperti bensin atau batu bara. Buangan dari proses pembakarannya adalah asap yang juga mengandung gas-gas beracun, dan kemudian dilepaskan ke udara juga. Bahan makanan yang kamu konsumsi setiap hari, didatangkan dari kota-kota lain. Untuk penduduk Jakarta terutama, tidak ada lagi pertanian di dalam kota yang mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Bahan pangan harus didatangkan dari kota lain menggunakan kendaraan bermotor. Semakin banyak lah gas-gas beracun yang dilepaskan ke udara, dan ikut kita hirup sehari-hari.

Dengan adanya gas-gas beracun tersebut, kepekatannya akan meningkat seiring waktu. Hanya sedikit yang bisa diserap oleh tumbuhan. Belum lagi, berkurangnya hutan di seluruh dunia menyebabkan proses penyerapan gas seperti karbon dioksida melambat. Penyerapannya tidak secepat penambahan gas-gas itu ke udara. Alhasil, panas matahari yang masuk ke atmosfer Bumi akan terperangkap di dalam kubah gas beracun yang ada di seluruh dunia. Panas itu juga akan terakumulasi, dan menyebabkan katastrofi di muka Bumi.

 

Memangnya Panas Yang Tidak Bisa Keluar Itu
Menyebabkan Apa?

Beberapa daerah di muka Bumi, terutama di kutub-kutubnya yang tempatnya sangat jauh dari matahari adalah tempat dengan lapisan es yang tebal dan sangat luas. Suhu dan gas beracun tentunya akan menyebar hingga ke daerah kutub. Akibatnya, panas yang tidak bisa keluar dari atmosfer itu akan menyentuh daerah kutub dan menyebabkan es disana mencair. Bayangkan saja, lapisan es yang sudah ada jutaan tahun lamanya, mencair sedikit demi sedikit dan menaikkan permukaan air laut. Daratan menjadi semakin sempit dan banyak pulau-pulau kecil tenggelam karena air laut semakin meluap.

Menurut data yang dikumpulkan oleh NASA sejak tahun 1993 hingga sekarang, permukaan laut sudah meningkat sebanyak 84.8 milimeter. sea-level-jul-2016

Itu baru dari peningkatan permukaan air laut saja. Bagaimana dengan bencana-bencana yang lain? Banyak sekali yang sudah terjadi di muka Bumi ini hanya karena efek rumah kaca saja. Misalnya:

Jadi, Apa Yang Bisa Kita Lakukan untuk Mengurangi
Dampak Perubahan Iklim?

Gunakan kendaraan pribadi seminimal mungkin. Menggunakan motor roda dua akan lebih baik karena emisinya tidak sebesar mobil. Kurangi penggunaan listrik yang tidak perlu. Kurangi penggunaan pendingin udara di rumah. Buatlah saluran udara yang baik agar rumah tetap sejuk walaupun tanpa pendingin udara. 

Jika yang diatas belum bisa dilakukan, setidaknya masih ada satu hal yang bisa dikerjakan.

Tanam pohon atau tanaman lain sebanyak-banyaknya di lingkungan
tempat tinggal atau kerja anda. Tanaman berfotosintesis
dan menyerap  karbon dioksida untuk menghasilkan makanan
yang digunakan untuk tumbuh.

Adalah tugas kita semua untuk menjaga Bumi ini supaya tidak rusak lebih cepat. Hei, umat manusia belum menemukan cara untuk bepergian antar tata surya atau galaksi, lho! Mau pergi ke Mars saja masih beberapa belas tahun lagi. Jadi, ya, setidaknya kita masih bisa menghidupi beberapa generasi lagi sebelum Bumi benar-benar hancur karena ulah kita.

Yuk, lebih peduli dengan satu-satunya tempat tinggal kita. Jika kita sendiri tidak peduli, siapa lagi yang merawat Bumi?

 


 

(Foto Tajuk oleh Luke Duggleby, REDUX)

Leave your thought here ...

%d bloggers like this: